Oleh Mellin Herlina
(Mahasiswa ISIF Cirebon)
Refleksi film Avatar: Fire And Ash, film ini tentang Jake Sully yang berperilaku baik terhadap perempuan dan istri yang bernama Neytiri. Hal ini bisa dikaitkan dengan hadist atau ayat Al-Quran dan buku Membina Keluarga Bahagia.
Bukan sekedar hero, belajar maskulinitas positif dan cara menghargai perempuan dari Jake Sully. Kedudukannya sebagai pemimpin yang mengharuskan dirinya bertindak cermat dan bijak, serta berdampak. Jake Sully justru menjadi sorotan para penonton akan relasi yang dibangun pada keluarga kecilnya.
Stereotip tokoh pahlawan laki-laki yang biasanya arogan dan merasa paling tahu segalanya, kini dipatahkan oleh sikap nyata yang dilakukan oleh Jake sully, juga sebagai Olo’eyktan (pemimpin klan) Omatikaya. Sekaligus menjadi kepala keluarga.
Selayaknya, sebagai kepala keluarga yang mana sering dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya memilih pilihan yang cukup pelik, tak jarang keputusan yang diambil justru memunculkan kontroversial dengan Neytiri. Memutuskan tentang keberlangsungan masa depan keluarga mereka dengan dibumbui berbagai macam argumen yang menyebabkan selisih pemahaman antara keduanya.
Naluri keibuan Neytiri yang masih merasakan kesedihan atas kehilangan salah satu anak mereka (Neteyam) yang gugur pada perang RDA (Administrasi Pengembangan Sumber Daya) pada Avatar: The way of Water. Buntut dari keputusan yang diambil Jake Sully, menjadikannya menanyakan apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan? Justru perang yang didapatinya serta kehilangan anak sulung mereka.
Kendati demikian, dengan banyaknya prasangka buruk yang dituduhkan kepada Jake Sully. Sikap yang ditampilkan Jake Sully untuk merespon keresahan Neytiri, ia justru memvalidasinya kemarahan, keresahan, serta rasa trauma yang masih membayanginya terlebih dahulu. Sehingga hal ini menjadi reminder, bahwasanya kita harus tetap kuat dan melindungi yang masih hidup.
Kepekaan Jake Sully pada situasi rentan ini menjadi langkah awal untuk memahami emosional pasangan. Menjadikan cara pandang yang saling memperlakukan dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf). Prinsip ini, menempatkan pasangan sebagai mitra yang setara dalam mengelola rumah tangga.
Diperkuat dengan QS. Ali’Imran, 3:159, yang mana cara untuk menghadapi situasi dengan kasus yang sama dan sering terjadi dalam sebuah relationship pasangan suami dan istri.
“Maka berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertaqwa.” (QS. Ali’Imran, 3:159).
Manajemen konflik yang berlangsung sukses mengobrak-abrik emosional penonton yang bersamaan dengan kagum dan amarah yang hanya selisih beberapa menit dari itu. Pada mata yang dimanjakan dengan keindahan dunia pandora yang memperlihatkan tatanan ekosistem yang baik, sebelum kemarahan itu muncul atas rasa keserakahan segelintir kelompok.
Merebut paksa dari kehidupan yang sudah sejak awal menempatinya, menyulut kemarahan atas Suku Na’vi yang merasa kehidupannya diusik oleh orang asing yang berdampak mengancam keberlangsungan ekosistem yang ada didalamnya.

