Oleh Muhammad Zaki Marzuq Setyagraha (Mahasiswa ISIF Cirebon)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289)
Sudah sering sekali kita mendengar atau mempelajari hadits ini di sekolah atau saat salat jumat, bahwa umat terbaiknya Rasulullah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Tetapi kenapa saat topik tentang menjadi kaya dibahas, tiba-tiba semua orang justru hanya ingin menjadi “biasa saja”? Padahal dengan menjadi kaya kita bisa membantu lebih banyak orang.
Di Indonesia, pemahaman “menjadi orang yang sederhana saja” sudah menjadi salah satu doktrin yang mendarah daging di dalam ajaran Islam dan kultur Indonesia. “Saya hanya ingin hidup sederhana saja” itu menjadi kalimat yang diujarkan untuk mengekspresikan sifat rendah hati atau zuhud. Namun realitanya, apakah kalimat dan pemahaman seperti ini bermanfaat dan konstruktif untuk komunitas kami? Jika kemiskinan bukanlah kondisi yang harus dicari atau dipertahankan sebagai ideal keagamaan. Maka glorifikasi terhadap kemiskinan atas nama kesalehan perlu dibedakan dari konsep zuhud atau kesederhanaan yang sebenarnya dan klaim saya didukung oleh jurnal “Solusi Pengentasan Kemiskinan dalam Al-Qur’an” yang ditulis oleh Moh. Ilman Nur Hakim.
“One of the factors that causes high poverty among Muslims is low work motivation and misunderstandings in understanding religious teachings. Aswar Hasan as quoted in Iyus Yusni (2021) stated that many Indonesian Muslims tend to be less proactive and reluctant to work hard, thus reflecting a low work ethic. This view is also confirmed by Fazlur Rahman who emphasized that low work spirit is one of the causes of poverty among Muslims. Furthermore, the view of theological fatalism from the Jabariyyah school which views that humans do not have free will also contributes to the strengthening of passive attitudes in facing poverty (Ash-Syahrasani, 1985).”
Inti dari penjelasan di atas adalah etos kerja dan motivasi yang lemah yang kebanyakan muslim rasakan berasal dari pemahaman yang salah dari ajaran agama Islam. Dimana berakibat kebanyakan orang muslim menjadi tidak proaktif dan enggan bekerja keras. Dogma bahwa harus menerima takdir hidup apa adanya, menjadi salah satu faktor besar yang membuat musim pasif dalam kemiskinan.
Dalam teori Maslow’s hierarchy of needs, dijelaskan bahwa orang yang bisa memikirkan dan membantu kesejahteraan orang lain adalah orang-orang yang sudah bisa memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, yaitu bisa memenuhi kebutuhan primer hidupnya. Karena orang yang sudah memenuhi kebutuhan primernya, sudah bisa memiliki kapasitas dan kemampuan lebih besar untuk membantu orang banyak, dengan perut kenyang mereka bisa lebih bertenaga untuk membantu dan memiliki energi untuk berpikir mengenai suatu isu, dengan pendidikan yang pantas mereka bisa memiliki kapasitas pengetahuan lebih untuk memikirkan solusi masalah yang komunitasnya hadapi, Dengan uang yang lebih mereka bisa gunakan uang tersebut untuk berdonasi, membuat proyek, dan banyak hal yang lain bisa diselesaikan oleh uang.
Keberadaan komunitas yang kaya akan harta, mereka bisa membantu mensejahterakan masyarakat dengan berkolaborasi dalam pengelolaan sumber daya untuk rakyat kelola, yang akan mengurangi angka pengangguran, membantu perputaran ekonomi daerah, dan memberikan pendidikan non-formal kepada masyarakat untuk membantu pelaksanaan proyek.
Banyak sekali keberkahan dan manfaat yang bisa diberikan oleh orang beriman yang kaya, jadi mengapa banyak dari umat kita ingin sekali menjadi orang “sederhana”? Mengapa kita puas dengan “kesederhanaan”. Padahal menjadi kaya adalah sebuah opsi bagi kita?
Pemikiran bahwa kita harus jadi orang yang “sederhana” itu harus dihilangkan, jenis pemikiran yang sangat membatasi diri seperti harus menjadi orang yang “sederhana” hanya membuat kita terpuruk dalam kemiskinan dan menerima situasi buruk sebagai sesuatu yang harus kita syukuri. Tidak ada salahnya dengan bersyukur, tetapi jangan membuat “bersyukur” menjadi sebuah alasan untuk kita menerima hal yang tidak manusiawi, dikarenakan ada orang lain yang tidak punya apa-apa.
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan dengan kekayaan, kita bisa mensejahterakan diri sendiri serta banyak orang. Dengan demikian, hal tersebut adalah alasan mengapa orang beriman harus kaya.

