Oleh Sifa Paoziah
(Mahasiswa ISIF Cirebon)
Pada Selasa sore, 30 Juni 2026, Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina (DEMA ISIF) berkolaborasi dengan BEM STIE, PANCALOKA, FAK, DEMA UIN SSC, FORDISMA, dan GUSDURIAN. menyelenggarakan kegiatan nonton bareng dan diskusi film “Gie”. Bertempat di aula Institut Studi Islam Fahmina (ISIF).
Melalui pemutaran film Gie, yang berdurasi 2 jam 20 menit, kita diajak untuk mengenal lebih dekat sosok Soe Hok Gie beserta nilai-nilai kritis, keberanian menyuarakan kebenaran, dan kepeduliannya terhadap persoalan sosial serta kemanusiaan. Kegiatan ini dipandu oleh Bung Sukma sebagai moderator dan Bung Fazrien sebagai pemantik.
Dalam pengantarnya, Bung Sukma menjelaskan bahwa film Gie menarik untuk didiskusikan karena menggambarkan dua masa kepemimpinan Presiden Soekarno dan Soeharto. Menurutnya, masa transisi tersebut menjadi salah satu periode penting dalam sejarah Indonesia yang dipenuhi berbagai peristiwa politik dan sosial yang masih relevan untuk dipahami mahasiswa hingga saat ini.
Pada pemaparannya, bung Fazrien, menyoroti dinamika hubungan antara guru dan siswa yang tergambar dalam film Gie. Menurutnya, terdapat gesekan yang menunjukkan bahwa mahasiswa kerap dipandang belum cukup matang untuk menyampaikan gagasan, sehingga “budaya feodalis masih juga diterapkan”.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ketika Soe Hok Gie memasuki dunia perkuliahan, Indonesia sedang berada pada masa transisi politik yang penuh gejolak. Di akhir pemaparannya ia menyampaikan pertanyaan “kira-kira kalau Soe Hok Gie hidup di zaman sekarang, apakah bakal ngelawan atau tidak?”.
Menanggapi pertanyaan tersebut Rohim berpendapat bahwa “Soe Hok Gie pasti bakal melawan karena ia didasari intelektual yang kuat”. Kemudian ditanggapi juga oleh Lelah menegaskan bahwa kebenaran itu harus dibuktikan, menurutnya keadilan tidak akan terwujud apabila hanya menjadi rencana saja, tetapi harus diperjuangkan bersama.
Kemudian, Bung Rehan menyoroti kondisi media pada saat ini. Menurutnya, semakin banyak pemberitaan dan narasi yang beredar di ruang publik, namun kita perlu memiliki sikap kritis dalam menyikapi setiap informasi yang diterima. Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit narasi yang dibentuk oleh kepentingan tertentu, termasuk yang berasal dari pemerintah, sehingga penting bagi kita untuk melakukan pengecekan ulang dan melihat suatu peristiwa dari berbagai sudut pandang.
Sebagai penutup, Bung Sukma mengajak kita untuk melakukan refleksi terhadap peran kita sebagai mahasiswa, “apakah kita sudah menjalankan peran sebagai mahasiswa atau hanya ke kampus datang ke kelas, pulang, apakah hanya sebatas itu aja kegiatannya”. Sebagai penutup ia berharap agar kita semua bisa mendapatkan pencerahan melalui diskusi ini, serta dapat membangun semangat untuk menjalankan peran kita sebagai mahasiswa.

