Close Menu
LPM LATAR ISIFLPM LATAR ISIF
    Postingan Terbaru

    DEMA ISIF dan HIMASA UIN Siber Syekh Nurjati Gelar Diskusi: Bongkar Kuasa dan Respon Sosial dalam Bencana

    Oktober 24, 2026

    Kumpulan Puisi Hasmi Rosyadi

    Oktober 10, 2026

    Orang Beriman Harus Kaya

    Oktober 10, 2026
    Facebook Instagram YouTube
    Facebook Instagram YouTube
    LPM LATAR ISIFLPM LATAR ISIF
    • Beranda
    • Berita
    • Sastra
      • Cerpen
      • Puisi
    • Artikel
    • Resensi
      • Buku
      • Film
    • Suara Mahasiswa
    • Profil Redaksi
    • Pengiriman Naskah
    LPM LATAR ISIFLPM LATAR ISIF
    Home»Sastra»Cerpen»Langit Terakhir Pilo
    Cerpen

    Langit Terakhir Pilo

    Latar OnlineBy Latar OnlineJuni 6, 2026Updated:Juni 25, 2026013 Mins Read8 Views
    Facebook Twitter WhatsApp Copy Link
    Share
    Facebook Twitter WhatsApp Copy Link

    Najwatul Fadillah

    (Mahasiswa ISIF Cirebon)

    Pisang goreng buatan bunda mengepulkan uap manis di atas piring. Aku dan bapak duduk di beranda rumah beralas tikar anyaman bambu dengan secangkir teh manis hangat dan kopi pahit untuk bapak.

    “Pak, ada cerita apa buat hari ini?” tanyaku, karena bapak biasanya suka bercerita banyak hal. Termasuk dongeng dengan penuh petuah yang sangat aku sukai.

    “Kau ingin cerita yang mana?” sambil menggigit pisang goreng yang hangat, bapak melirikku.

    “Yang mana saja.”

    Bapak terkekeh setelah menelan kunyahan terakhir. Sambil menatap cahaya pagi yang mulai membias di langit biru sana. Aku menatap wajahnya dari samping. Nampak tampan sangat bapakku ini. Lalu dia mulai bercerita.

    Saat itu, udara pagi terasa sejuk. Fajar tiba dari ufuk barat, memberi lukisan indah pada langit pagi. Ketika matahari semakin tinggi dari munculnya, hewan-hewan di hutan samping pedesaan, keluar dari sarang mencari makan.

    Cicitcit… Cit. Cit!

    Pilo merasa bangga dan senang karena berhasil terbang. Ibu Pilo yang melongok dari atas pohon melihat anaknya berhasil melewati fase tersebut, tersenyum bangga. Burung pipit seperti mereka hanya membutuhkan waktu hitungan hari untuk bisa terbang. Dan Pilo baru saja melewati fase itu dengan baik.

    Siangnya, Pilo dan kawannya pergi ke ladang padi, mencari makan di sana. Ladang itu terlihat seperti permadani emas, karena musim panen telah tiba. Pilo hinggap di atas sebatang padi yang telah masak bijinya. Mematuk dengan riang sebelum beralih ke batang lain dan makan dengan lahap. Sesekali menjumpai larva, semut dan bahkan kutu daun, ia patuk dan menelannya dengan perasaan amat senang. Rasanya seperti daging wagyu premium, sungguh lezat.

    Di sebelah barat dari petak ladang padi yang mereka datangi. Terdapat irigasi kecil, mereka minum dari sana. Pilo minum dengan paruhnya, rasa dingin menyegarkan menenangkan panas yang membakar bulunya. Karena terlalu menikmati, tingkat kewaspadaannya mengendur. Teriakan dari teman-temannya terdengar nyaring sebelum beberapa detik, sebuah jaring merangkap tubuhnya.

    “Pak! Aku dapat burung pipit!” dengan menahan jaring seroknya, seorang anak petani berteriak girang memanggil ayahnya.

    Pak petani yang membawa sabit di genggamannya dengan caping di kepala, melihat anaknya dan tersenyum.

    “Mau kamu apakan burung itu, Nak?” tanyanya sambil menaruh sabit dan melepas capingnya. Memandang burung pipit yang dipegang tangan mungil itu sambil merendam kaki ke dalam irigasi kecil di bawahnya. Menikmati kesejukan di tengah hari yang mulai terik.

    “Aku mau menaruhnya di sangkar burung yang bapak dapat waktu itu!” jawabnya dengan memegang Pilo yang gemetar ketakutan dalam genggamannya.

    Pilo sudah kehabisan tenaga setelah meronta dengan liar. Ketika melihat kawanannya pergi, dia semakin merasa putus asa. Dia tertangkap manusia! Dia sangat takut dan gelisah. Apalagi ketika anak itu membawanya ke rumah si petani itu dan ditempatkan dalam sangkar yang membatasi ruang geraknya.

    Di dalam sangkar itu, Pilo mengepakkan sayapnya. Berusaha keluar dari sangkar dengan menabrakkan diri ke jeruji bambu.

    “Hey! Tenang, kecil… aku tak akan menyakitimu. Kau akan menjadi temanku sekarang,” ucap Raksa, bocah sepuluh tahun si anak petani itu. Sedangkan Pilo menatapnya dengan ngeri sambil mencericit keras.

    Mendengar cerita itu membuatku merasa iba, tapi bapak tetap menceritakannya dengan raut tenang. Seakan aku bisa melihat anak lelaki di sana, di depan kita, berdiri di samping sepetak ladang padi dan sedang menggenggam Pilo. Lalu pergi membawa burung kecil yang malang itu. Meninggalkan jejak yang menyatu dengan udara kosong.

    Sudah berjam-jam. Usahanya sia-sia. Dia tetap terperangkap di dalam sangkar itu. Merenung di pojokan. Biji-bijian yang diberi Raka, tak ia hiraukan. Nafsu makannya menurun drastis. Dia khawatir sang ibu pergi jauh untuk mencarinya, itu membuatnya sedih.

    Hingga senja tiba di ufuk barat, di balik dua bukit yang saling berdekatan, Pilo menatapnya dari beranda rumah petani dalam kurungan sangkar. Cahayanya membuat bulu halusnya berkilau. Pemandangan yang indah. Tapi, nasib buruk yang menimpanya membuat keindahan itu seperti kengerian yang jahat.

    Ketika senja dimakan malam. Tubuhnya menggigil. Selain karena udara yang dingin, dia merasa takut, sangat takut. Hanya bisa meringkuk dan berharap jika esok akan ada si penyelamat untuknya.

    “Siapa penyelamat itu, Pak?”

    Bapak menyeruput kopi pahitnya sebelum melirikku sambil tersenyum.

    “Menurutmu?”

    “Burung lain? Atau temannya lelaki itu?” kataku, sambil menggigit pisang goreng.

    Bapak terkekeh sebelum mengambil pisang goreng yang ke-tiga.

    “Tapi, si penyelamat tak kunjung datang,” kata Bapak.

    Sudah lewat tiga hari. Pilo jarang makan dan minum. Lebih banyak diam. Kadang, Raka mengajaknya bicara, tapi dia hanya memandangnya dengan perasaan rumit. Bangun pagi, ia akan bernyanyi, sekadar mengusir rasa risau yang bersemayam. Menguatkan diri dan selalu berdoa jika suatu saat datang seorang penyelamat. Lalu Raka akan datang mengisi wadah makanan yang jarang kosong.

    Ketika senja kembali datang. Membawa lukisan indah yang tak abadi. Pilo memandangnya, selalu seperti itu. Memikirkan keadaan ibu dan kawannya. Hidup mereka jauh lebih baik. Tanpa kurungan dan kekangan. Dia juga ingin begitu.

    Maka, ketika lembayung menyapa. Sosok burung gagak hinggap di pagar rumah. Tatapannya tajam, suaranya berat.

    “Hai kecil…,” suaranya serak dan berat. Mata gelapnya menatap Pilo. “Berilah burung gagak ini setidaknya seteguk air.”

    Tanpa persetujuan Pilo, gagak itu menghampiri sangkar hingga membuatnya sedikit bergoyang. Membuat pipit itu terjingkat dan meringkuk. Gagak itu minum dengan paruhnya yang gelap.

    “Panggil aku Krow, burung kecil yang malang,” ucapnya, sambil mengelap paruh dengan sebelah sayapnya.

    “Aku tidak malang, hanya… kurang beruntung.”

    Hening sejenak, lalu Krow mengoak dengan suara serak. Terdengar horror. Tapi Pilo hanya diam. Menganggapnya tak lucu sama sekali.

    “Aku ingin keluar dari sini, terbang dengan bebas kembali ke luar sana,” ucap Pilo sambil menatap bias jingga di sore itu.

    “Seakan langit selamanya berwarna biru. Kau tahu? Jika di luar sana dingin. Dan tidak ada yang menunggumu satu pun.”

    “Tidak ada? Aku mempunyai ibu, dan kawan-kawan!” Pilo mencericit keras di depan wajah Krow yang gelap.

    “Kau anggap mereka kawanmu?” Krow mendekat dan menatap langsung ke dalam mata Pilo. “Kecil… Tetaplah di situ, dunia luar tak ramah pada bulu selembutmu.”

    Lalu Krow mengepakkan sayapnya. Pergi dengan angkuh dari jeruji bambu yang bergoyang pelan. Meninggalkan jejak dingin di sekitarnya. Sosok gelapnya perlahan menghilang ditelan bayang-bayang langit yang mulai gelap.

    “Burung gagaknya jahat banget, aku gak suka!”

    Aku berjalan di samping bapak, hendak ke samping rumah.

    “Kau boleh menganggapnya begitu, tapi bagi Bapak, tidak,” katanya. Bapak mengambil sepeda dari beranda samping rumah.

    “Kenapa…  tidak?” aku berdiri di samping agak jauh darinya.

    Hening. Bapak hanya diam, tak mau menjawab atau memang harus aku yang mencarinya sendiri. Jika begitu, biarlah aku cari tahu nanti. Percuma saja bertanya tapi nanti tak di jawab bapak. Lalu dia kembali menceritakannya.

    Malam hari ketiga setelah kedatangan Krow. Pilo kembali bersama dingin dan sunyi. Tak ada lagi nyanyian kecil. Ia membisu, merindukan dekapan hangat ibu. Rindu ketika bulunya yang lembut membuatnya tertidur lelap tanpa memikirkan bahaya.

    Bulan sabit menggantung di langit, kerlip bintang di sekitarnya nampak menawan di tengah gelap. Setelah percakapan singkat dengan Krow, yang cukup membuatnya terusik. Pilo sulit memejamkan mata di balik sangkar. Ketika ekor matanya menangkap sosok bayangan besar hinggap di dahan pohon dekat rumah petani. Tubuh mungilnya menegang.

    “Siapa itu?”

    “Yang menjaga malam. Dan kau, burung kecil kenapa belum tidur?” burung hantu dengan suaranya yang berat dan dalam menatap Pilo.

    Si kecil terdiam sejenak, “Aku takut,” katanya, sambil menunduk menatap alas sangkar.

    “Takut pada apa?”

    “Pada luar sangkar. Pada langit dan cerita semua burung yang mendatangiku.”

    Burung hantu menundukkan kepala. Matanya berkilat samar di bawah cahaya bulan.

    “Takut itu wajar. Tapi jika kau biarkan ia tinggal, takut akan tumbuh lebih cepat dari sayapmu.”

    “Tapi dunia di luar, bisa… membunuhku,” suara Pilo terdengar pelan.

    “Dan dunia di dalam bisa melupakanmu.”

    Sunyi. Angin dingin melewati jeruji sangkar. Sedangkan burung hantu membentangkan sayapnya, besar dan gelap.

    “Burung hantu yang gagah sekali, ya, Pak?”

    Aku dibonceng bapak. Kami naik sepeda ontel. Ingin ke ladang padi yang katanya baru tandur.

    “Ya, gagah dan bijaksana, seperti itulah burung hantu.”

    Lalu setelah sampai. Bapak menaruh sepeda dan menyandarkannya ke pohon. Kami duduk bersama di bawah pohon jambu air di samping ladang padi sambil menghela napas.

    “Lalu? Setelahnya bagaimana? Kasihan Pilo. Dia ketakutan.”

    Bapak menyandarkan punggungnya ke batang pohon jambu. Benang sari berwarna merah muda bertebaran di bawah kami. Sungguh indah, seindah suara bapak ketika kembali bercerita.

    Pagi menjelang. Sangkar Pilo tergantung di beranda rumah. Udara terasa hangat dan langit terlihat bersih setelah hujan semalam. Seekor merpati putih keabu-abuan hinggap di pagar bambu dekat sangkar.

    “Kau diam saja sejak tadi. Biasanya, burung kecil suka berkicau di pagi yang seindah ini.”

    “Tidak ada alasan untuk bernyanyi.”

    Si merpati itu tersenyum lembut, “Semua burung punya alasan. Bahkan yang terkurung pun masih punya langit di dalam matanya.”

    “Langit ku kecil, hanya… selebar sangkar ini!” ia melirik ke arah si merpati.

    “Kau hanya lupa caranya melihat.”

    “Apa dunia di luar benar-benar seindah itu?” suaranya dengan lirih.

    “Sayangnya, tidak selalu indah dan mudah. Angin kadang menyakitkan. Dan hujan bisa membuat sayap berat. Tapi, di sanalah hidup terasa… nyata.”

    Pilo menatapnya dengan sedikit ragu. Tapi matanya mulai berkilat. Untuk pertama kalinya ada harapan kecil di sana.

    Bapak berhenti bercerita. Dia pergi menghampiri tanaman. Aku tahu itu, kami menyebutnya buah ciplukan. Bentuknya bulat dan ukurannya kecil seperti kersen. Yang mana, buahnya itu terbungkus kelopak. Rasanya manis, sedikit asem dan getir.

    Dia membawanya dan duduk di sampingku dengan segenggam buah ciplukan. Aku memungutnya satu. Membuka kelopaknya lalu aku makan buahnya. Begitu pun bapak. Sebelum kembali bercerita. Katanya, setelah tiga hari di landa hujan. Langit biru cerah tanpa awan. Udaranya sejuk menyegarkan pernapasan.

    Musim tanam tiba. Para petani dan pekerja sawah membawa bibit padi dengan menggunakan caping. Ada yang membawa rantang makanan dan teko. Ada yang membawa bakul berisi piring dan gelas plastik. Perbekalan makan siang mereka.

    Ladang itu terlihat seperti lautan coklat. Lumpurnya terlihat gembur dan sehat. Ketika matahari semakin meninggi. Mereka mulai bekerja. Menanam bibit padi itu. Sedangkan di salah satu jeruji bambu. Pilo memandang dari kejauhan orang-orang itu. Bercengkrama sambil tertawa di sela kegiatan. Ada rasa getir saat melihatnya. Bisakah dia sebahagia itu? Lelah sudah menyanyi untuk menghibur diri. Kini hanya bisa diam bersama sunyi.

    Aroma masakan dari dapur rumah petani tak benar-benar tercium. Tapi dia bisa mendengar antusias Raka menyerukan makanan.

    Murungnya Pilo dilirik seekor kucing yang melintas di depan rumah petani. Dia terus memperhatikan Pilo dengan mata tajamnya. Berjalan mendekat dengan senyap. Pilo yang melihat langsung meringkuk.

    “Wah… wah… burung kecil sepertimu… kenapa bisa di situ?” Kucing itu menggeram sambil menyeringai. Lalu melompat ke atas pagar.

    “Apa urusanmu datang ke sini?” Pilo mencericit keras.

    “Aku hanya sedang mencari remah kehidupan di bawah cahaya pagi.” Si kucing bersuara rendah, langkahnya terus mendekati sangkar. Gerakannya pelan dan berbahaya.

    “Lalu, mengapa kau mencarinya di sini?” tubuh kecilnya mulai menggigil. Tanda bahaya berdering nyaring di kepalanya.

    “Menurutmu?” lalu si kucing melompat untuk menjangkau sangkar. Membuat Pilo menjerit. Sangkar bergoyang brutal. Makanan dan minuman di dalamnya tumpah ruah.

    Mendengar keributan di beranda rumah membuat Raka berjalan cepat keluar. Dan melihat si kucing sedang menjangkau Pilo yang berada di dalam sangkar menggunakan cakarnya.

    Tapi Raka kalah cepat. Sangkar itu jatuh menggelinding di depan teras rumah. Tubuh Pilo terpelanting dalam sangkar. Dengan si kucing yang masih berusaha menjangkau Pilo.

    Raka mengambil sapu lidi dekat pilar kayu di beranda rumah lalu menyabetnya ke arah si kucing. Meninggalkan celah yang tak disadari mereka pada sangkar itu.

    Pilo melihatnya, nampak di depan mata. Pintu sangkar terbuka. Menawarkan harapan baru yang besar.  Dengan kaki gemetar dan kepakkan sayap yang kaku. Pilo keluar dari celah itu. Jantungnya berdegup kencang. Merasakan tanah lembab dan udara kebebasan yang dia rasakan. Antara antusias dan takut. Pilo mengepakkan sayapnya perlahan, namun menjadi brutal setelah mendengar teriakan Raka di belakangnya.

    Tanah yang dipijak tak lagi terasa. Tubuhnya terayun kanan kiri. Sayapnya terasa kaku, dengan tubuh yang gemetar. Ini sayap pertamanya. Pagi pertamanya. Langit pertamanya setelah sekian lama. Riangnya rasa membuat Pilo semakin berdebar. Meninggalkan Raka di belakang sana.

    Aku duduk tegak dan memekik girang. “Pilo bisa keluar sangkar, Pak?”

    Bapak mengusap kepalaku, kami duduk berhadapan. Angin pagi yang sejuk semakin terasa manis mendengar ceritanya.

    “Ya, dia akhirnya bisa keluar dari sangkar.”

    Bapak memungut segenggam benang sari bunga jambu air. Lalu menaburkannya di atas rambutku. Yang membuatku kesal dan tersungut-sungut. Tapi bapak hanya tertawa, sebelum membantuku membersihkannya lagi.

    “Pilo merasa senang, jika dia bisa bicara. Begini kira-kira yang dia katakan…” dan aku kembali menyimak sambil berpangku tangan.

    Aku senang. Sangat bahagia. Pagi pertama yang indah ketika berhasil menjemput langit dengan sayapku. Kapan terakhir kali aku merasakan ini? Sudah sangat lama. Aku terus berusaha terbang. Jantungku berdebar karena antusias, aku akan bebas. Aku kembali ke pelukan udara. Dersiknya menerpa setiap inci buluku. Damai dan lega rasanya luas sekali.

    Tapi, aku lengah. Sekali lagi aku lengah. Ketika suara mesin kencang terdengar begitu dekat. Dan sayapku terasa keram. Aku jatuh. Menyentuh tanah yang lembab. Pandanganku berputar.

    Maka ketika melihat benda bergerak yang manusia sebut ‘traktor’ itu semakin dekat di depan mata. Jantungku mencelos. Kepalaku berteriak nyaring. Tapi tubuh ini terasa lemas dan kaku.

    Hingga benda tajam dan berat itu melintasi tubuhku. Aku mati rasa. Bercak merah memenuhi penglihatan di tengah langit biru, pagi itu. Sebelum gelap mengambil alih. Aku menahan napas, tertegun. Tak berani menyimpulkan. Aku tak bisa menebak apa maksud dari perkataan burung kecil itu, yang bapak sampaikan.

    Bapak melirikku sebelum kembali bercerita. Rautnya masih tenang. Tanpa ada niat untuk berhenti, atau sekadar menjelaskan.

    Karena hari menjelang siang, kita harus pulang. Atau kami akan dimarahi bunda. Dengan menuntun sepeda ontel, kami berjalan bersisian. Langit perlahan cerah. Warna biru membentang di atas kepala kami

    “Lalu, dunia seakan senyap. Hanya dunia di sekitar burung kecil saja. Karena, semua yang tak peduli, tetap berjalan di atas muka bumi,” kata bapak. Dan aku hanya diam.

    Seakan terlihat jelas, tubuh mungil Pilo tergeletak penuh bercak darah di depanku. Di atas tanah lembab pada jalan setapak. Rumput hijau di sekeliling tubuhnya penuh bintik merah.

    “Siapa sangka. Pagi pertama dengan kepakkan tak lama, yang dia dapat menjadi akhir dari napasnya?” katanya, sambil melirikku sebelum kembali menatap lurus ke depan.

    “Seakan dunia tak ingin bulu selembut itu terkena kejamnya dunia di luar.”

    “Tapi, bukankah itu tak kalah kejamnya?” tanyaku. Karena aku masih belum bisa menerima kenyataan itu. Aku tak mau. Cerita itu benar-benar membuatku ikut merasa sesak dan nyeri.

    “Entahlah,” kata bapak. Yang membuatku merasa tak puas dengan jawabannya.

    Ia hanya sempat melihat langit belasan meter. Sebelum terkekang karena kesenangan orang lain. Di dalamnya dia hidup dengan pelukan takut. Tapi berkat hati kecilnya yang ingin hidup. Dia mampu bertahan, meski akhirnya harus mati.

    Merpati yang melihat dari dahan pohon mangga yang tak jauh darinya. Menatapnya dengan sendu. Burung gagak bertengger di atas tiang lampu jalan mengoak seakan menyampaikan kabar duka. Burung hantu yang mengintip dari dalam batang pohon berlubang, mengeluarkan suara penuh rasa bela sungkawa.

    “Dia mungkin mati muda, tapi setidaknya ia mati sebagai burung yang bebas.”

    “Dia berhasil pulang, kembali pada keabadian.”

    Tatapan bapak mengawang. Tapi kedua mataku terasa perih dan mengembun.

    “Bagaimana itu bisa disebut pulang? Dia tewas Pak. Juga sia-sia saja dia berusaha untuk keluar dari sangkar tadi. Harusnya dia jangan pernah keluar dari sana,” suaraku bergetar. Aku tak mampu melangkah. Bapak tersenyum dan menunggu, seakan ikut merasakan rasa ibaku.

    “Kalau dia terus di sana, maka terjadilah apa kasta si burung hantu. Jika dia akan dilupakan.”

    “Usahanya tak sia-sia. Dia tak jadi menghadapi dunia yang kejam, Nak. Tapi kembali ke pelukan Tuhan yang menciptanya,” katanya.

    Aku terisak kecil. Kisah Pilo berhasil membuatku agak terguncang. Aku kembali berjalan dengan mata sembap yang mungkin akan terus ditanyai bunda. Biarlah bapakku saja yang dimarahi karena menceritakan kisah setragis itu. Mungkin, aku belum bisa menangkap apa yang dimaksud dalam cerita bapak yang ini. Tapi, aku selalu merasa bahwa setiap apa yang bapak ceritakan, selalu mempunyai makna yang dalam.

    Cerita Fabel Cerpen Mahasiswa Cerpen Sastra
    Share. Facebook Twitter WhatsApp Copy Link
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Popular

    Masyarakat Cirebon Tolak Geothermal

    Oktober 6, 2026108 Views

    Puisi Sukma Aulia Rohman

    Juni 12, 202664 Views

    DEMA ISIF dan HIMASA UIN Siber Syekh Nurjati Gelar Diskusi: Bongkar Kuasa dan Respon Sosial dalam Bencana

    Oktober 24, 202647 Views

    Adopsi Nilai Film ‘Tepatilah Janji’ untuk Sikapi Polemik Demokrasi

    Juni 14, 202642 Views
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook Instagram YouTube
    • Pengiriman Naskah
    • Redaksi
    © 2026 LatarOnline.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.