Close Menu
LPM LATAR ISIFLPM LATAR ISIF
    Postingan Terbaru

    DEMA ISIF dan HIMASA UIN Siber Syekh Nurjati Gelar Diskusi: Bongkar Kuasa dan Respon Sosial dalam Bencana

    Oktober 24, 2026

    Kumpulan Puisi Hasmi Rosyadi

    Oktober 10, 2026

    Orang Beriman Harus Kaya

    Oktober 10, 2026
    Facebook Instagram YouTube
    Facebook Instagram YouTube
    LPM LATAR ISIFLPM LATAR ISIF
    • Beranda
    • Berita
    • Sastra
      • Cerpen
      • Puisi
    • Artikel
    • Resensi
      • Buku
      • Film
    • Suara Mahasiswa
    • Profil Redaksi
    • Pengiriman Naskah
    LPM LATAR ISIFLPM LATAR ISIF
    Home»Resensi»Buku»Berjuang di Langit Belitong: Membaca Keteguhan dan Ironi Hidup
    Buku

    Berjuang di Langit Belitong: Membaca Keteguhan dan Ironi Hidup

    Latar OnlineBy Latar OnlineJuni 29, 202602 Mins Read23 Views
    Facebook Twitter WhatsApp Copy Link
    Share
    Facebook Twitter WhatsApp Copy Link

    Oleh Farah Azh Zhahrah
    (Mahasiswa ISIF)

    Novel Padang Bulan karya Andrea Hirata, novelnya mampu menyihir pembaca lewat cerita yang memadukan tawa dan air mata. Lewat novel Padang Bulan, kita kembali diajak mengintip kehidupan masyarakat Belitong yang penuh dengan lika-liku. Buku yang menjadi pembuka dari rangkaian dwilogi ini terasa sangat spesial, karena di sini Andrea tidak lagi sekadar bernostalgia tentang masa kecilnya, melainkan memotret perjuangan hidup yang lebih keras tentang bagaimana bertahan di tengah kemiskinan dan keterbatasan.

    Perjuangan dan sentilan sosial yang menohok pusat kekuatan dari novel ini ada pada sosok gadis muda bernama Enong. Bayangkan saja, di usianya yang baru belasan tahun, dia harus kehilangan sosok ayah yang menjadi tulang punggung keluarga. Demi ibu dan adik-adiknya, Enong terpaksa turun ke lubang tambang yang berlumpur dan menjadi pendulang timah perempuan. Lewat Enong, penulis ingin merubah pandangan masyarakat bahwa pekerjaan kasar di area tambang hanya bisa dilakukan oleh laki-laki.

    “Pertemuan dengan seseorang mengandung rahasia Tuhan. Maka, pertemuan sesungguhnya adalah nasib. Orang tak hanya bertemu begitu saja, pasti ada makna di baliknya.” — (hal. 188)

    Hebatnya lagi, di sela-sela baju yang kotor oleh lumpur timah, Enong punya mimpi besar  dia belajar bahasa Inggris secara otodidak lewat kamus tua. Ini adalah pembuktian bahwa kemiskinan materi tidak bisa membunuh kekayaan mimpi seseorang.

    “Orang-orang itu telah melupakan bahwa belajar tidaklah melulu untuk mengejar dan membuktikan sesuatu, namun belajar itu sendiri adalah perayaan dan penghargaan pada diri sendiri.” — (hal. 197)

    Di sisi lain, cerita menjadi hidup berkat kehadiran Ikal. Kisah cinta Ikal yang penuh drama dengan A Ling, ditambah tingkah kocak sahabat-sahabatnya, memberikan humor segar di tengah getirnya latar cerita. Namun, di balik tawa yang dihadirkan, sebenarnya ada sentilan keras bagi kita semua. Andrea sedang mengkritik keadaan sosial lewat humor  mengapa tanah Belitong yang kaya akan timah justru membuat rakyat kecilnya hidup melarat dan harus memeras keringat sedalam itu hanya untuk sekadar makan?

    “Bukan dari keadaan yang nyaman lahir manusia besar, melainkan dari perjuangan melawan keterbatasan.”
    — R.A. Kartini, dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang

    Secara keseluruhan, Padang Bulan adalah sebuah buku yang sangat manusiawi. Novel ini mengajarkan kita bahwa hidup memang sering kali tidak adil, tetapi menyerah bukanlah sebuah pilihan. Lewat karakter Enong, kita diingatkan bahwa sekecil apa pun harapan yang kita miliki, jika dijaga dengan keteguhan hati, ia akan tetap bersinar terang dan menuntun kita keluar dari kegelapan.

    Share. Facebook Twitter WhatsApp Copy Link

    Related Posts

    Pengaruh Cinta dalam Buku Senapan Cinta Karya Kurnia Effendi

    Juni 12, 2026

    Renungan Eksistensial dalam Solilokui Karya Nana Sastrawan

    Juni 6, 2026
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Postingan Popular

    Masyarakat Cirebon Tolak Geothermal

    Oktober 6, 2026108 Views

    Puisi Sukma Aulia Rohman

    Juni 12, 202664 Views

    DEMA ISIF dan HIMASA UIN Siber Syekh Nurjati Gelar Diskusi: Bongkar Kuasa dan Respon Sosial dalam Bencana

    Oktober 24, 202647 Views

    Adopsi Nilai Film ‘Tepatilah Janji’ untuk Sikapi Polemik Demokrasi

    Juni 14, 202642 Views
    Sosial Media
    • Facebook
    • Instagram
    • YouTube
    Facebook Instagram YouTube
    • Pengiriman Naskah
    • Redaksi
    © 2026 LatarOnline.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.