Oleh Indah Q. N
(Mahasiswa ISIF Cirebon)
“Saya mengenal Kurnia Effendi sebagai seorang romantis, hangat, dan ceria. Cerpen-cerpennya indah, bahkan ketika ia menulis cerita sedih, ngungun atau sedikit absurd, kalimat-kalimatnya puitis. Dan itu menjadi kekuatan Kurnia selain ketelatenannya merajut perasaan yang rumit dengan bahasa yang komunikatif”
Itulah ungkapan dari Acep Zam-Zam Noor seorang sastrawan senior etnis Sunda usai membaca buku berisi 12 cerpen yang terkumpul bernama Senapan Cinta karya Kurnia Effendi.
Melalui tanggapan yang telah diungkapkan Acep Zam-Zam Noor, bisa disimpulkan bahwa setiap individu dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai kehidupan, belajar tentang pengorbanan, kehilangan, kesetiaan, kerinduan, keikhlasan, penerimaan, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan emosional seseorang dari pengalaman yang pernah dialami.
Lalu bagaimana tentang pemahaman tentang cinta? Itu yang ingin saya notice dari buku Senapan Cinta ini. Cinta pada dasarnya adalah soal kebebasan. Namun, seberapa banyak dari kita yang benar-benar memahami apa makna kebebasan dalam mencintai?
Kita sering menganggap bahwa mencintai berarti memberi, dan dalam proses memberi itu, muncul keinginan untuk mengatur. Seperti seorang pelukis yang berharap karyanya memiliki warna yang tepat, bentuk yang sesuai, serta gradasi yang sempurna. Namun, manusia bukanlah kanvas yang dapat diubah sesuka hati, dan cinta bukan sekadar alat bagi seseorang untuk membentuk pasangannya sesuai keinginannya. Di sinilah letak persoalan yang rumit: yang mencintai ingin mencinta dengan caranya sendiri, sementara yang dicintai ingin dicinta dengan caranya pula. Lalu, bagaimana dua hati bisa bertemu dalam satu ikatan tanpa ada yang merasa tersakiti?
Mungkin jawabannya bukan sekadar kompromi, karena kompromi sering kali hanya sebatas penyesuaian. Sementara cinta bukan hanya tentang menyesuaikan diri, melainkan tentang menerima tanpa kehilangan diri sendiri, memberi tanpa mengharapkan imbalan yang sama persis, membentuk tanpa memaksakan, serta merawat tanpa mengekang.
Mengutip pada bagian akhir dari salah satu cerpen dalam buku tersebut yang berjudul Laras Panjang Senapan Cinta.
“Digenggamnya telapak tanganku tanpa suara, aku pun mendadak seperti gagu. Ia berdiri kemudian berjalan sambil menarik tanganku. Tubuhku terseret, mengikuti langkahnya, seperti demikian ringan. Melewati semak perdu, duri, dan akar pepohonan, tanpa rasa pedih. Kemana aku akan dibawa? Aku mencoba mengingat kembali perasaan yang mengangguku, Apakah aku sang pemburu itu? Aku mencoba mengingat sesuatu yang terdengar sejak awal. Dzreppp!”
Memberi pemahaman bahwa cinta juga memiliki dua sisi yang saling beriringan. Di satu sisi, cinta mampu menghadirkan kebahagiaan, Namun di sisi lain, cinta juga dapat menimbulkan luka, bahkan penderitaan. Seperti peluru yang ditembakkan dari sebuah senapan tepat mengenai bagian tubuh dan berdarah-darah.
Pengaruh cinta sering kali mengenai sasarannya secara tiba-tiba karena itu seseorang perlu menyikapi kehadiran cinta tidak hanya dengan kesiapan penerimaan saja namun harus dengan kebijaksanaan agar tidak meninggalkan luka yang sulit dihapus, adapun cinta bukan dalam bentuk hubungan romantis antara laki-laki dan perempuan saja namun, semua ikatan emosional yang mendalam terhadap lainnya.

